Tuesday, 25 November 2014

Bocor, Jeroan Dahsyat Galaxy S6

Bocoran spesikasi Galaxy S6 segera beredar menyusul kabar bahwa Samsung sedang mengembangkan perangkat tersebut di markas besarnya di Korea Selatan.

Sebagaimana dikutip KompasTekno dari GSM Arena (5/11/2014), "sumber internal" amsung menyebutkan bahwa Galaxy S6 bakal memiliki layar quad-HD (2560x1440) seperti Galaxy Note 4.

Aspek lain yang disinyalir juga sama dangan Galaxy Note 4 adalah kamera, di mana Galaxy S6 disebutkan bakal turut memakai sensor bikinan Sony. Tapi masih belum diketahui apakah Samsung akan memilih sensor 16 megapixel atai 20 megapixel.

Di bagian muka akan tertanam unit kamera sekunder dengan resolusi 5 megapixel, sama dengan yang ditemukan pada seri ponsel Galaxy A.

Jeroannya sendiri mencakup prosesor Exynos 7420 yang merupakan chip mobile 64-bit pertama dari Samsung, dengan empat core Cortex-A57 dan empat core Cortex-A53.

Akan ada versi lain dari Galaxy S6 yang dibekali prosesor Qualcomm, kemungkinan tipe Snapdragon 810 yang juga mengusung dukungan 64-bit high-end. 

Samsung disinyalir akan meninggalkan media internal berkapasitas 16 GB. Jadi, Galaxy S6 bakal memiliki pilihan kapasitas media internal mulai 32 GB. Boleh jadi akan ada pula varian 64 GB dan 128 GB.

Galaxy S6 dipanggil dengan kode sandi "Project Zero" di kalangan internal Samsung. Ini karena perangkat itu kabarnya benar-benar dirancang dari nol, baik dari segi desain maupun kemungkinan materi yang digunakan.

Thursday, 20 November 2014

LG dan Google Kerjasama Hak Paten

Pabrikan smartphone Korea terbesar kedua, LG mengumumkan kerjasamanya dengan Google dalam hal hak paten. Perjanjian antar keduanya itu akan berlangsung selama 10 tahun ke depan.

Pengumuman kerja sama paten antara LG dan Google itu dilakukan di sela-sela laporan kinerja keuangan LG pada kuartal tiga 2014 yang dilakukan pada Rabu (5/11/2014) dan dimuat di halaman web LG Newsroom.



Menurut Executive Vice President and Head of LG’s Intellectual Property Center, J.H. Lee, kerjasama kedua perusahaan menunjukkan komitmen LG dan Google dalam mengembangkan produk-produk dan teknologi baru yang bisa meningkatkan kualitas hidup konsumen mereka.

Sementara Deputy General Counsel for Patents Google, Allen Lo mengatakan: "Dengan bekerjasama lintas paten seperti ini, kedua perusahaan bisa fokus dalam menghadirkan produk dan layanan yang berkualitas bagi konsumennya di seluruh dunia.

Namun, Google dan LG tidak merinci lebih jauh hak paten apa saja yang akan mereka bagi.

LG menjadi rekanan yang penting bagi Google saat ini. Produsen smartphone terbesar kedua di Korea dan keempat di dunia itu baru-baru ini ditunjuk secara resmi oleh Google untuk memproduksi perangkat Nexus.

Pengiriman smartphone Android LG juga dilaporkan meningkat 39 persen tahun per tahun mencapai 16,8 juta unit pada kuartal tga 2014 ini.

Selain bekerjasama dengan LG, di awal tahun ini Google juga menandatangani kesepakatan yang serupa dengan produsen smartphone terbesar di dunia, Samsung yang sekaligus adalah produsen smartphone Android terbesar.

Saturday, 15 November 2014

Jelang Lollipop, Sepertiga Android Sudah Kitkat

Setahun setelah perkenalannya, sistem operasi Android 4.4 "Kitkat" masih belum bisa mengalahkan dominasi Android 4.1/2/3 "Jelly Bean" yang digunakan oleh separuh jumlah pemilik perangkat Android secara keseluruhan.

Tapi populasi perangkat dengan OS Android "Kitkat" terus bertambah.

Sebagaimana dikutip KompasTekno dari BGR (5/11/2014), data terakhir dari dashboardGoogle menunjukkan bahwa sistem operasi itu kini telah digunakan oleh 30 persen atau sekitar sepertiga jumlah perangkat Android yang beredar.

Di luar "Jelly Bean" dan "Kitkat", versi Android lain yang ternyata masih banyak dipakai adalah Android 4.0 Ice Cream Sandwich (8,5 persen) dan Android 2.3 Gingerbread (9,8 persen).
Jumlah pengguna Kitkat mengalami pertumbuhan sebesar 6 persen pada Oktober lalu dibandingkan bulan sebelumnya. Adapun angka terbesar (50,2 persen) masih dipegang oleh gabungan Android 4.1, 4.2, dan 4.3 yang dikenal dengan satu nama, "Jelly Bean".

Versi terbaru Android 5.0 "Lollipop" belum terlihat di radar dashboard Google karena baru mulai tersedia di Nexus 6 dan Nexus 9.

Sistem operasi ini akan menyusul hadir di perangkat smartphone dan tablet seri Nexus lainnya, kemudian perangkat Google Play Edition dan model-model kelas atas dari sejumlah pabrikan.

Thursday, 13 November 2014

Yuk, Nostalgia Main "Ding-dong" dari PC

Sempat mencicipi main game di "ding-dong" alias mesin game arcade di pusat-pusat game? Familiar dengan tokoh-tokoh Street Fighter atau Donkey Kong? Jika demikian, koleksi aplikasi milik Internet Arcade ini bisa menjadi sarana hiburan sekaligus nostalgia yang menarik.

Internet Arcade adalah bagian dari Internet Archive, sebuah organisasi non-profit yang memiliki tujuan melestarikan segala macam "artefak digital" umat manusia agar dapat diketahui dan dipelajari oleh semua orang.

Nah, sebagaimana dikutip KompasTekno dari ArsTechnica, salah satu bentuk artefak digital dimaksud adalah video game arcade. Internet Arcade mengumpulkan judul-judul game ding-dong lawas dari era 70-an hingga awal 90-an. Koleksinya mencapai 900 judul, mulai dari yang populer seperti Street Fighter dan Donkey Kong tadi hingga yang kurang dikenal.

Asyiknya, aneka game yang terkumpul di Internet Archive bisa dimainkan di browserberkat JSMESS, sebuah emulator open-source. JSMESS merupakan proyek sampingan dari Multiple Arcade Machine Emulator yang dirancang untuk Java Script.

Memang tidak semua game bisa dijalankan dengan lancar. Beberapa bisa berjalan, tapi sangat sulit dikontrol dengan tombol-tombol keyboard, terutama game yang dirancang untuk dimainkan dengan pengendali khusus, seperti trackball atau game vektor.



Kurator Internet Arcade Jason Scott memilih sekitar 300 judul game ding-dong lawas disitusnya yang telah teruji dan bisa berjalan lancar di browser (diutamakan Firefox, tapi bisa juga memakai peramban lain). Sisanya dapat dimainkan juga, tapi tak terlalu mulus berjalan di browser dan cenderung bermasalah, misalnya dalam hal scaling grafik ataumapping kontrol dengan tombol keyboard.

Sebagian game yang ditawarkan Internet Arcade masih berada di bawah hak cipta dari pembuatnya. Beberapa bahkan dirilis ulang di konsol game modern. Tapi Scott menjelaskan bahwa apa yang dilakukan pihaknya merupakan bentuk dari "penggunaan hak untuk mengingat".

Yang jelas, para pengunjung situs Internet Arcade jadi bisa bernostalgia dengan memainkan aneka game jadul yang menemani masa muda dulu, atau mencoba judul-judul lain yang belum dikenal.

Ke depannya, Scott berharap materi-materi game yang dikumpulkan Internet Arcade bisa menjadi referensi para peneliti, akademisi, atau siapapun yang tertarik dengan game lawas untuk mempelajari sejarah dari industri video game.

Tuesday, 11 November 2014

Soal 4G, Smartfren dan Btel Tidak Mau Buru-buru

Walau pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 30 Tahun 2014 tentang Penataan Frekuensi 800 MHz, dan membebaskan siapa saja untuk menggelar layanan 4G LTE di frekuensi tersebut, namun operator seluler Smartfren dan Bakrie Telecom mengaku tidak ingin terburu-buru menggelar layanan 4G LTE.

Dua operator CDMA yang akan bergabung tersebut mengatakan bahwa saat ini pelanggan CDMA mereka masih banyak dan terus meningkat, serta sudah terlayani dengan baik.
"Kita memandang (bisnis) CDMA (Smartfren) masih bagus, customer juga meningkat, mereka juga masih senang karena kualitasnya bagus, rasanya jangan buru-buru lah," ujar Merza Fachys, Direktur Smartfren saat dijumpai di Jakarta, Rabu (5/11/2014).
Perlu diketahui, PM 30 Tahun 2014 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kominfo itu mengatur tentang penataan frekeunsi 800 MHz. Dengan demikian, pemerintah membebaskan siapa saja untuk menggelar layanan 4G LTE di frekuensi tersebut.
"Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri tersebut, maka frekuensi 800 MHZ kini menjadi netral, terserah kapan kita (operator seluler) mau berubah," terang Merza.
Namun walau Smartfren dan Bakrie Telecom mengumumkan kerjasama network sharinguntuk LTE menggunakan FDD di frekuensi 800 MHz, mereka tidak ingin terburu-buru dalam melakukannya.
Smartfren memandang pelanggan CDMA mereka saat ini masih berpotensi. Jumlah pelanggan Smarfren di frekuensi 800 MHz sendiri diklaim ada lima hingga enam juta.
Sementara jumlah pelanggan Bakrie Telecom (Esia) hingga semester pertama 2014, menurut Head of Corporate Communication Bakrie telecom, R. Adityawati mencapai 12.000 pelanggan.

Di sisi lain, Bakrie Telecom juga masih memiliki "pekerjaan rumah" yang belum selesai. Bakrie Telecom harus membereskan terlebih dahulu isu tunggakan Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) frekuensi sebelum tenggat waktunya berakhir, 14 Desember 2014 nanti.
Ditambahkan oleh Merza, dengan Peraturan Menteri tentang penataan frekuensi 800 MHz tersebut, pemerintah memberikan masa tenggang selama dua tahun untuk penyelenggaraan Fixed Wireless Broadband.
"Setelah masa transisi itu FWA harus ganti ke seluler," ucap Merza.
Menurutnya, sepanjang masih FWA, maka layanan akan tetap seperti sekarang, nomor pelanggan tidak ada perubahan, menunggu hingga nanti setelah dua tahun.

Sunday, 9 November 2014

Seperti BBM, WhatsApp Kini Punya Status "Read"

Meski sangat populer, WhatsApp dianggap memiliki kekurangan karena tidak menyediakan notifikasi keterbacaan pesan yang dikirim. Sementara, BlackBerry Messenger dan Line telah menjadikan fitur "Read" ini sejak lama.



Fitur ini bagi banyak pengguna sangat penting karena bisa memastikan pesan yang dikirim telah terbaca oleh rekannya.

Meski belum diperkenalkan secara resmi, WhatsApp akhirnya merilis fitur status baca untuk sebuah pesan. Kehadiran fitur ini pertama kali ditemukan oleh 9to5Mac, pada Rabu (5/11/2014).
Situs teknologi tersebut mendapati adanya tanda centang baru berwarna biru yang ternyata menunjukkan pesan tersebut telah dibaca oleh penerima.

Sebelumnya, WhatsApp hanya mempunyai dua notifikasi untuk sebuah pesan. Centang satu yang menerangkan bahwa pesan telah terkirim ke server. Sementara, tanda centang dua kali menyatakan bahwa pesan telah terkirim ke perangkat tujuan, bukan sudah dibaca oleh penerima.

Selama ini, cukup banyak pengguna yang mengartikan centang dua di WhatsApp adalah pesan yang dikirim telah dibaca penerima. Padahal sebenarnya, pesan tersebut baru sampai di perangkat penerima.

Fitur "Read" di WhatsApp saat ini sudah muncul di perangkat berbasis iOS, Android, dan Windows Phone. Sebelumnya, pengguna harus mengunduh aplikasi WhatsApp terbaru dari toko aplikasi masing-masing platform.

Friday, 7 November 2014

Kenapa Samsung Berhenti Bayar "Upeti" ke Microsoft?

Awal Oktober lalu, muncul berita bahwa Samsung menolak membayarsebagian "upeti" ke Microsoft terkait persoalan lisensi paten Android. Samsung dituding lalai membayar biaya lisensi paten yang kemudian dipermasalahkan oleh Microsoft ke pengadilan.


Ketika itu Samsung berargumen bahwa akuisisi Microsoft atas Nokia telah membuat perjanjian bisnis lisensi paten dengan Samsung menjadi tidak sah. Kini, raksasa Korea itu mengungkapkan informasi baru soal perkara hukumnya.

Sebagaimana dikutip KompasTekno dari ZDNet (3/11/2014), pada 2011, Samsung meneken perjanjian lisensi paten Android dengan Microsoft. Sebagai bagian dari perjanjian bisnis itu, Samsung diharuskan memproduksi ponsel berbasis Windows Phone dan berbagi rahasia bisnis dengan Microsoft.

Apabila Samsung berhasil menjual ponsel Windows Phone dalam jumlah tertentu, Microsoft akan mengurangi biaya lisensi paten Android yang diminta dari Samsung.

Akan tetapi hal tersebut agaknya urung terjadi karena pangsa pasar Windows Phone yang sudah kecil justru mengalami penurunan sejak 2013. Samsung yang tak lain merupakan pabrikan smartphone terbesar di dunia kini hanya memiliki satu lini produk ponsel Windows Phone, yakni Ativ S.

Samsung juga mengatakan bahwa posisi Microsoft sebagai pemilik baru Nokia telah menempatkan perusahaan itu dalam posisi bersaing langsung dengan Samsung selaku pabrikan perangkat. Samsung pun tak bersedia lagi membagi informasi rahasia dengan Microsoft karena bertentangan dengan hukum anti-trust di AS.

"Perjanjian yang kini dilakukan dua kompetitor itu bisa memunculkan tuduhan kolusi," sebut Samsung dalam dokumen pengadilan.

1 miliar dollar 

Kenapa Samsung membayar Microsoft untuk lisensi software Android yang sebenarnya dimiliki oleh Google?

Ini karena Microsoft mengklaim bahwa Android memakai sejumlah teknologinya yang dipatenkan, misalnya kemampuan menampilkan banyak window sekaligus di dalam web browser. Jadilah Samsung dan para pabrikan perangkat Android lainnya diharuskanmembayar biaya lisensi ke Microsoft.

Samsung menandatangani perjanjian lisensi paten dengan Microsoft pada 2011 lalu, di mana Samsung berkomitmen membayar biaya royalti selama tujuh tahun fiskal untuk mendapat hak memakai teknologi Microsoft di perangkat smartphone dan tablet Android miliknya.

Permasalahan hukum pada Agustus lalu muncul karena Microsoft menilai Samsung telat membayar biaya royalti untuk tahun kedua dan karena itu harus membayar bunga.

Di sisi lain, Samsung mengklaim bahwa akuisisi Microsoft atas Nokia telah membuat perjanjian antar-kedua perusahaan menjadi tidak valid karena Samsung juga memiliki perjanjian lisensi paten dengan Nokia.

Jumlah biaya lisensi paten yang dibayar Samsung ke Microsoft terbilang besar. Sepanjang 2013 saja, pabrikan ini menyetor 1 miliar dollar AS ke Microsoft dari sekitar 300 juta perangkat Android yang dijualnya pada tahun itu.